The day when his gone

1/09/2015 02:36:00 AM ratna rahmat 0 Comments

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kalo diingat lagi awal tahun lalu tepatnya tangggal 3 januari,adalah hari yang biasa-biasa saja...hujan...basah...dingin
selepas mahgrib sebenarnya saya punya rencana mau ke salah satu acara Fashion show tahunan dari salah satu kampus di kota ini.yang mau menemani sudah ada,tapi entah kenapa rasanya masih ragu untuk beranjak dari rumah.
sampai ada pesan singkat yang masuk,dari Tono.
"pak,Imran sakit sekarang ada di RS Pelamonia"
singkat tapi cukup untuk membuat kaget,dan setelah saya sampaikan ke grup bbm,,,mendadak saya jadi sibuk membalas pesan yang isinya minta penjelasan,,,
sakit apa...
kenapa bisa...
jadi bagaimana...
kapan mau jenguk...
saya sendiri malam itu rasanya langsung saja mau ke RS,tapi karena sudah cukup malam,,,dan sepertinya jam besuk sudah berakhir kalaupun saya paksakan ke sana,,,
sambil tetap membalas pesan-pesan yang masuk,,,saya rebahan.rencananya mau tidur saja,setelah merapal doa,tepat saat mata saya mau terpejam,ada firasat 'aneh' yang membuat saya bangun lagi dan memegang ponsel,,,tidak cukup sedetik ponsel saya bergetar,,,pesan singkat dari Tono lagi

"innalillahi wa innalillahi..." tidak selesai membaca saya sudah ada diruang tengah dan pamitan sama bapak dan mama...dengan muka yg basah..."hati-hati dijalan" nasehat mama malam itu
ya orang tua saya cukup kenal dengan Pak Imran,karena jaman SMA dulu saya cukup sering menceritakan soal beliau dirumah.
Entah kenapa Hujan juga mendadak reda,dijalan dengan konsentrasi yang terbagi antara mengendarai motor dengan baik dan mengingat kembali memori tentang Pak Imran...dan ingatan paling jauh tentang beliau adalah hari pertama saya belajar akuntansi dikelasnya,ajakannya yang lebih seperti 'permohonan' ke saya untuk ikut ekskul pramuka.dan ingatan terakhir waktu musyawarah Ambalan,saya hadir tapi tidak bisa nginap,pas saya pamitan mau pulang beliau datang.
ya saya mengingat cukup banyak detail sepanjang jalan dari Antang ke Minasa Upa,kediaman beliau cukup mudah ditemukan,selain karena memang lokasinya ada dibagian depan juga karena cukup seringnya saya dan teman-teman Pramuka Smandel main kesana.
Sampai disana saya tidak langsung masuk,dari luar saya lihat Tono sedang sibuk mengatur ini-itu.seperti di film-film ketika tokoh utamanya terdiam sedang disekelilngnya berputar seperti biasanya dengan cepat.hening
sampai akhirnya ada yang mengajak masuk,saya cuman bertatapan sama tono tidak ada ucapan yang bisa keluar bukan karena tidak saling peduli,tapi saya tahu apa yang saya rasa saat itu Tono juga rasa bahkan mungkin lebih,mengingat dia lebih "rewel' dan 'merepotkan' pak Imran
Jenasah masih dalam perjalan,
tapi tidak berapa lama anak alm. menghambur masuk sambil menangis begitu juga bunda,istri pak Imran,kami berpelukan saling menghibur.
entah apa lagi yang terjadi,saya sudah duduk disamping bunda yang terus-terus menangis disamping,jenasah pak imran.
ada yang bilang kalo kita mau menilai seberapa baik seseorang lihat berapa banyak yang datang ketika dia meninggal,dan malam itu mungkin jadi salah satu malam yang saya bisa bertemu dengan alumni lintas angkatan terbanyak.
Ya seumur hidup beliau pastinya banyak meninggalkan kesan baik untuk orang-orang yang mengenalnya.
Saya secara pribadi termasuk yang beruntung karena Allah izinkan berkenalan dengan beliau,lebih dari itu saya muridnya,belajar langsung tentang banyak hal darinya.Tidak akan cukup jika harus saya tulis disini 
Setahun kepergian beliau tapi bagi kami anak-anak didiknya khususnya anggota pramuka Smandel sosoknya tetap lekat dan jadi panutan.
Bunda mengadakan pengajian,saya menyempatkan hadir. Sembari bersilaturahim dengan bunda dan adik-adik pramuka.
Ya seseorang mungkin datang dan pergi,bertemu lalu berpisah,lahir kemudian meninggal tapi diantaranya selalu ada kisah,hikmah,dan petuah yang membuat kebersamaan itu menjadi layak dikenang bukan untuk disesalkan tapi sebagi pembelajaran hidup
Wassalam
*tolong kirim Al Fatiha untuk Alm. Imran Aziz

You Might Also Like

0 komentar: